FULL DAY SCHOOL DI KOTA MALANG
Dilansir dari Tribunnews.com, Mendikbud menggagas sistem full day school untuk pendidikan dasar dan menengah pertama (SD dan SMP) baik negeri maupun swasta. Sistem full day school ini mewajibkan siswa mengikuti pembelajaran mulai pagi hingga sore untuk hari senin sampai jumat. Sistem full day school ini dimaksudkan agar pola pendidikan karakter dapat berfungsi secara optimal. Pendidikan karakter diwujudkan dengan penambahan aktivitas sekolah, bukan penambahan materi pelajaran. Penambahan aktivitas sekolah ini berarti pembelajaran yang dilakukan berorientasi pada variasi metode pembelajaran selain metode ceramah yang telah lama diterapkan di sekolah. Guru dapat menyampaikan materi pelajaran dengan metode simulasi, misalnya, ketika guru memberikan materi tentang operasi penjumlahan dan pengurangan, siswa mensimulasikan kegiatan perdagangan. Ada yang menjadi penjual dan ada pula yang menjadi pembeli. Siswa akan belajar dengan mempraktikkannya, sehingga diharapkan pendidikan karakter siswa terbentuk melalui kegiatan tersebut dengan menanamkan nilai kejujuran, kecermatan, keberanian di samping kemahiran dalam mengoperasikan penjumlahan dan pengurangan dalam matapelajaran matematika. Berdasarkan hal tersebut, guru dan siswa akan terlibat aktif dalam pola pembelajaran berbasis Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pola pembelajaran ini menekankan keterlibatan siswa aktif dalam proses belajar-mengajar di kelas, siswa akan terlibat aktif baik secara emosional maupun intelektual. Dengan adanya sistem full day school pada hari Senin hingga Jumat, maka kegiatan belajar dan mengajar di tingkat SD dan SMP akan diliburkan pada hari Sabtu dan Minggu, pertimbangannya karena program pendidikan karakter telah dilaksanakan dengan waktu yang panjang (full day school) mulai hari Senin hingga Jumat, sehingga hari Sabtu dan Minggu akan menjadi hari keluarga.
Gagasan Mendikbud mengenai sistem full day school telah terdengar hingga kota pendidikan, sebutan untuk kota Malang. Gagasan ini menimbulkan pro dan kontra, tidak hanya pihak sekolah saja namun juga masyarakat pada umumnya. Pihak yang setuju dengan kebijakan ini memandang bahwa kegiatan pembelajaran dengan metode ceramah sudah terlalu monoton dan tidak membuat siswa terlibat aktif. Sedangkan pihak yang tidak setuju menyebutkan bahwa belajar tidak harus secara formal di sekolah, dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Dengan adanya full day school, anak-anak akan terbatas ruang geraknya. Mereka akan lebih sering berada di sekolah daripada hidup bermasyarakat. Padahal pada kenyataannya, belajar di sekolah itu sebagai bekal hidup di masyarakat. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari populasi sekolah tingkat SD dan SMP yang berhasil menerapkan sistem full day school, itu pun sekolah yang telah menerapkan sistem full day school sebelum adanya gagasan Mendikbud. Dilansir dari media online Malang Times, Di Kota Malang sendiri sekolah yang telah menerapkan full day school adalah SD Sabilillah kota Malang bahkan lembaga ini sudah sangat lama menerapkan sistem tersebut. Selain SD Sabilillah, ada juga sekolah unggulan Al Ya’lu yaitu yayasan yang terdiri dari pra TK, TK, SD, dan SMP (suryamalang.com). Pada umumnya, sekolah-sekolah yang menerapkan sistem full day school memiliki fasilitas dan sarana prasarana yang lengkap atau dapat dikatakan memadai. Fasilitas yang diberikan oleh sekolah itu sebagai penunjang proses pembelajaran. Begitu pula dengan kualifikasi para guru yang mengajar serta kompetensi yang dimiliki oleh guru tersebut. Dengan demikian, pihak sekolah lah yang berperan penting dalam menyediakan dan mendayagunakan sumber daya yang ada di sekolah.
Pada tahun 2013 lalu, gagasan kemendikbud mengenai Kurikulum 2013 telah berlaku dan menggantikan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Masa berlaku KTSP sendiri berkisar kurang lebih 6 tahun (Wikipedia.org). Akan tetapi faktanya, di kota Malang yang disebut sebagai kota pendidikan pun semua sekolah belum bisa menerapkan kurikulum 2013. Bercermin dari pengalaman ini, maka gagasan sistem full day school juga belum tentu bisa diterapkan di kota Malang oleh semua sekolah jenjang SD dan SMP baik negeri maupun swasta. Hal ini karena tidak semua sekolah di kota Malang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana maupun fasilitas yang sama. Selain itu, aktivitas sekolah yang berlangsung lama juga akan menjadi sebab siswa mengalami kejenuhan dalam kegiatan belajar mengajar. Ketika siswa merasa jenuh, semua materi yang disampaikan oleh guru tidak dapat terserap dengan maksimal. Meskipun metode pembelajaran yang digunakan telah dibuat semenarik mungkin. Berawal dari kejenuhan belajar yang berakibat pada ketidakberhasilan guru dalam menyampaikan tujuan pembelajaran, sehingga tujuan sistem full day school untuk menanamkan pendidikan karakter pada siswa pun tidak dapat terealisasi dengan baik. Di sisi lain, komunikasi antara siswa dengan orang tua akan menjadi berkurang sebab siswa lebih sering berada di lingkungan sekolah. Jika melihat dari segi latar belakang keluarga dan status sosial ekonominya, maka tidak semua orang tua siswa itu memiliki pekerjaan dan kesibukan yang sama. Sehingga tidak semua siswa merasa kurang mendapat perhatian dari orang tuanya. Tidak hanya itu, komunikasi antara siswa dengan teman sebayanya juga akan berkurang. Interaksinya terbatas dengan teman-teman di sekolahnya saja. Padahal, siswa juga perlu berinteraksi dengan teman-teman sebayanya dan masyarakat lainnya di luar lingkungan sekolah. Tujuannya agar siswa terampil membina hubungan sosial di lingkungan sekitarnya, bukan hanya lingkungan sekolah. Pada akhirnya, kehidupan di lingkungan sekolah dengan sistem full day school membuat siswa merasa terisolasi dari lingkungan keluarga, teman sebaya, dan lingkungan masyarakat.
Selanjutnya, untuk menyikapi hal tersebut tentu saja pihak sekolah sangat berperan penting. Pihak sekolah sebaiknya mempertimbangkan terlebih dahulu mengenai kelengkapan fasilitas, sarana prasarana, kualifikasi guru, antusiasme siswa, kondisi sosial-ekonomi orang tua siswa. Dari pertimbangan itu, pihak sekolah dapat menemukan faktor pendukung dan penghambat untuk kelanjutan dari program sistem full day school ini. Berdasarkan hal tersebut, pihak sekolah akan lebih memperhatikan kebutuhan siswa dalam pembelajarannya di sekolah. Dengan demikian, harapan akan tercapainya tujuan pendidikan karakter dapat terwujudkan sesuai dengan realita sesungguhnya.
DAFTAR RUJUKAN
Anggyni Syafiiqag, Nini. 2011. Pendekatan Cara belajar Siswa Aktif (CBSA). (online). http://ninyanggrainy.blogspot.com/2011/12/pendekatan-cara-belajar-siswa-aktif.html diakses tanggal 23 November 2016.
Atmoko, Adi. 2015. Pandangan Sosial Budaya Bimbingan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Malang Times. 2016. Mendikbud: SD Sabilillah Malang Contoh Ideal Full Day School. (online). http://www.malangtimes.com/baca/14187/20160903/ 105636/mendikbud--sd-sabillah-malang-contoh-ideal-full-day-school/ diakses tanggal 25 November 2016.
Okezone. 2016. Mendikbud Sebut Malang akan Jadi Percobaan Full Day School. (online). http://news.okezone.com/read/2016/09/02/65/1479531/mendikbud-sebut-malang-akan-jadi-percobaan-full-day-school diakses tanggal 23 November 2016.
Surya Malang. 2016. Al Ya’lu Sekolah Unggulan dengan Sistem “Full Day”. (online). http://suryamalang.tribunnews.com/2016/08/09/al-yalu-sekolah-unggulan-di-kota-malang-dengan-sistem-full-day diakses tanggal 25 November 2016.
Tribunnews. 2016. Mendikbud: Hari Sabtu dan Minggu siswa SD-SMP akan diliburkan. (online). http://www.tribunnews.com/nasional/2016/11/07/ mendikbud-hari-sabtu-dan-minggu-siswa-sd-smp-akan-diliburkan diakses tanggal 7 November 2016.
Wikipedia. Tanpa tahun. Kurikulum 2013 https://id.wikipedia.org/wiki/ Kurikulum_2013 diakses tanggal 25 November 2016
Komentar
Posting Komentar