TERAPI BEHAVIOR

Terapi behavioral  dimulai pada akhir 1950-an, diciptakan berdasar prinsip-prinsip ilmiah perilaku dan dikembangkan selama lebih dari 100 tahun. Banyak dari pendekatan pertama didasari oleh konsep pengkondisian klasik Pavlov  dan pengkondisian operan milik Skinner. Dalam penelitian ini, bersamaan dengan studi pembelajaran observasional, menyediakan latar belakang untuk pengembangan teknik psikoterapi behavioral. Terapis Behavioral telah berhasil menerapkan prinsip-prinsip dasar seperti penguatan, kepunahan (extincion), pembentukan perilaku, dan pemodelan untuk membantu konseli.

Dalam terapi behavioral terjadi kecenderungan umum dari bekerja dengan mengamati kejadian yang dapat diamati, seperti memijit ke bekerja dengan peristiwa yang tidak dapat diamati, seperti pembelajaran yang terjadi dengan menonton seseorang melakukan sesuatu. Baru-baru ini, banyak terapis menggabungkan pendekatan behavioral dengan kognitif konseli.

 SEJARAH TERAPI BEHAVIORAL

            Tidak seperti teori psikoterapi lain, terapi behavioral berakar pada psikologi experimental dan studi tentang proses pembelajaran pada manusia dan hewan. Meskipun beberapa dokter menggunakan pendekatan yang sangat mirip dengan terapi behavioral seperti yang dipraktekkan saat ini, tetapi ridak ada studi sistematis tentang perilaku yang mengarah para perubahan perilaku sampai karya Ivan Pavlov (Farmer & Nelson-Grey, 2005; Wolpe, 1990). Pengamatan Pavlov tentang air liur anjing sebelum menerima makanan mengarah pada studi dan pengembangan pengkondisikan klasik. Dipengaruhi oleh eksperimen pengkondisian Pavlov, John Watson menerapkan konsep tersebut pada perilaku manusia. Pendekatan lain yang penting untuk dipelajari adalah pengkondisian operan yang dikembangkan B.F. skinner, yang meneliti pengaruh lingkungan dalam mempengaruhi atau membentuk perilaku individu. Baik pengkondisian klasik dan pengkondisian operan yang bekerja di luar individu. Sebaliknya, teori kognitif sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura, berkaitan dengan proses internal atau kognitif dan upaya untuk menjelaskan bagaimana individu belajar melalui pengamatan atau persepsi dari lingkungan mereka.

 

Pengkondisian Klasik

Ketika belajar proses pencernaan anjing, Pavlov mengamati bahwa anjing akan mengeluarkan air liur sebelum makanan dimasukkan pada lidah mereka (Hyman, 1964). Ketika mengamati lebih jauh, ia menyimpulkan bahwa anjing telah belajar dari peristiwa lingkungan, seperti suara atau melihat makan, yang akan mereka makan. Dia mampu menyajikan stimulus netral, seperti suara atau cahaya (stimulus netral, CS), untuk satu atau dua detik sebelum menyajikan makanan ( stimulus terkondisi, UCS) untuk anjing. Air liur ketika anjing melihat makan (UCS) adalah respon terkondisi (UCR). Setelah CS (cahaya atau suara) disajikan bersama-sama dengan UCS (makanan), CS (dengan sendirinya) akan menghasilkan air liur, respon terkondisi (CR), dari anjing. Dengan demikian, perilaku yang dipelajari adalah respon terkondisi Ivan Pavlov (CR) dengan penyajian stimulus terkondisi (CS).

            Pengkondisian klasik dapat diterapkan untuk berbagai spesies (termasuk manusia) dan jenis perilaku. Misalnya, Pavlov mampu memasangkan persegi hitam dengan stimulus terkondisi sebelumnya, irama metronom, dan menunjukkan orde kedua atau pengondisian tingkat tinggi. Dengan cara ini, temuan-temuan ilmiah mengenai proses pembelajaran mulai berkembang. Seperti penelitian pengkondisian klasik dan prinsip peilaku lain yang telah meningkat, peneliti menemukan prinsup-psinsip yang cukup komplek.

Pada awal 1900-an, John Watson, seorang psikolog eksperimental di Johns Hopkins University terkesan dengan penelitian Pavlov. Dia menghargai objektivitas dari pendekatan ini, yang menyebutkan bahwa untuk mempelajari stimulus langsung yang dapat diamati dan respon tanpa menggunakan proses mental internal, seperti berfikir dan pencitraan (Watson, 1914). Dalam sebuah penelitian yang terkenal (Watson & Rayner, 1920), Watson menjelaskan bagaimana reaksi emosional dapat dikondisikan pada anak dengan menggunakan model pengkondisian klasik. Peneliti mencatat bahwa Albert, seorang anak berusia 11 , akan menunjukkan rasa takut dan terkejut saat mendengar suara keras. Albert juga asyik bermain dengan tikus putih. Namun, ketika suara dibunyikan sebelum ia melihat tikus putih tersebut ia menjadi takut. Setelah pengkondisian selama 1 minggu, albert menangis ketika tikus tersebut dikeluarkan (Beck, Levinson, & Irons, 2009). Karya Watson (1914, 1919), yang didasari oleh penelitian studi Albert, telah berdampak pada banyak psikolog lainnya.

            Mowrer dan Mowrer (1938) tertarik dengan prinsip-prinsip pengkondisian klasik dan menerapkannya ke mengompol dalam  New Haven Children’s Center, dimana mereka mengembangkan sistem alaram urin yang dikondisikan dengan ketegangan kandung kemih dengan alarm. Ketika anak akan tidur dan kencing dimulai, urin akan meresap melalui kain, menutup sirkuit listrik dan membuyikan alarm. Setelah ini terjadi beberapa kali, ketegangan kandungan kemih akan membangkitkan anak sebelum buang air kecil. Variasi dari metode ini telah digunakan selama lebih dari 70 tahun (Spiegler & Guevremont, 2010) dalam sebuah proses yang memakan waktu 6 sampai 12 minggu untuk menghentikan mengompol.

 

Pengkondisian Operan

            Sementara pengkondisian klasik berfokus pada anteseden dari perilaku (penyajian CS sebelum UCS), pengkondisian operan berfokus pada anteseden dan konsekuensi dari perilaku. Berdasarkan karya awal E. L. Thorndike dan B. F. Skinner, pengkondisian operan (juga dikenal sebagai pengkondisian instumental) memberikan dasar banyak untuk terapi behavior saat ini. Karya ini memberikan dasar untuk penerapan psinsip-psinsip perilaku dalam berbagai macam masalah, terutama yang berhubungan dengan cacat mental yang berat seperti skizofrenia dan autisme.

            Bekerja pada waktu yang sama seperti Pavlov, Edward L. Thorndike (1898, 1911) menggunakan prosedur eksperimental yang  dikontrol untuk belajar Pembelajaran. Daripada mempelajari perilaku refleks, seperti yang dilakukan Pavlov, ia tertarik pada belajar perilaku baru. Menggunakan kucing sebagai subyek, ia menempatkan makanan di luar kandang dan mengamati bagaimana kucing mencoba melarikan diri dan menemukan makanan dengan melepaskan gerendel. Melarikan diri yang pertama terjadi dengan model trial-error. Kemudian kucing akan dapat melarikan diri dari kotak lebih cepat lagi. Dari percobaan dan pengamatannya, Thorndike mampu memperoleh Law of Effect, bahwa "konsekuensi yang mengikuti perilaku membantu pembelajaran" (Kazdin, 2001, hal. 17). Pada intinya, respon yang benar (misalnya, menyentuh tuas) diperkuat, dan respon yang salah (menggigit jeruji kandang) dilemahkan atau dikurangi. Selain Law of Effect, Thorndike memperoleh banyak prinsip perilaku lainnya dari eksperimennya, menekankan pentingnya sifat pembelajaran adaptif bagi hewan untuk bertahan hidup dan berfungsi dengan baik.

            Nama yang paling berhubungan dengan pengkondisian operan adalah B.F. Skinner (1904-1990). Sedangkan Thorndike melihat pengkondisian klasik dan operan sangat mirip, Skinner melihat banyak perbedaan. Pada dasarnya, pengkondisian operan adalah jenis pembelajaran di mana perilaku diubah dengan sistematis pengubahan konsekuensi. Contohnya adalah merpati dalam kotak Skinner, di mana merpati dapat mematuk kunci berlampu di dalam ruang kecil. peneliti mengontrol jumlah makanan yang diterima merpati (penguatan), dan merpati "mematuk" hal tersebut direkam secara otomatis. Dengan selektif memperkuat lampu hijau daripada lampu merah, merpati dapat belajar untuk mematuk lampu hijau bukan lampu merah.

            Upaya Skinner (1953) untuk menerapkan prinsip-prinsip pengkondisian operan dengan perilaku manusia yang kompleks menarik banyak perhatian. Dia menulis tentang relevansi pengkondisian operan bagi pemerintah, pendidikan, bisnis, agama, psikoterapi, dan berbagai interaksi manusia. Novelnya, Walden Two (1948), menunjukkan bagaimana pengkondisian operan dapat memberikan dasar bagi komunitas yang ideal. 

Status Terapi Behavioral Saat Ini

            Sebelum tahun 1960-an, terapi behavioral tidak diterima dengan baik oleh psikologi, pekerja sosial, pendidikan, atau psikiater. Sejak 1970-an, terapi behavioral telah diterapkan dalam banyak bidang seperti membesarkan anak, bisnis dan industri, meningkatkan kinerja atlet, dan meningkatkan kehidupan orang-orang di panti jompo, rumah sakit jiwa, dan lembaga lainnya. Setelah itu, terapi behavioral dipahami lebih baik sebagai suatu proses di mana konseli dan konselor, dalam banyak kasus, berkolaborasi untuk meningkatkan fungsi psikologis. Dalam terapi behavioral, hubungan dengan konseli dihargai, seperti terapi lain.

            Peningkatan penerimaan terapi behavioral terjadi akibat pertumbuhan jumlah praktisi behavioral dan publikasi mereka. The Association for Behavioral and Cognitive Therapies didirikan pada tahun 1966 dan pada tahun 2009 memiliki anggota lebih dari 4.000. Meskipun organisasi ini didirikan di Amerika Serikat, anggota terapi behavioral dapat ditemukan di sejumlah negara. Dengan meningkatnya minat terapi behavioral telah memberikan banyak jurnal yang ditujukan untuk terapi behavioral. Jurnal penting termasuk BehavioralDisorders, Therapy, Behavioral Technology Today, Behavior Modification, dst. Semua jurnal kecuali dua jurnal telah berdiri sejak tahun 1970. Hampir semua jurnal ini menunjukkan hubungan erat antara penelitian dan praktek terapi behavioral.

Penguatan Positif

Sebuah hal positif yang disajikan sebagai konsekuensi dari perilaku yang dilakukan seseorang disebut penguatan positif. Ketika hal positif mengikuti perilaku, dan frekuensi  perilaku meningkat, kegiatan ini merupakan penguat positif (Spiegler & Guevremont, 2010). Ganjaran tidak selalu meningkatkan frekuensi respon hal positif, sedangkan penguat positif tidak.

            Penguatan positif dianggap salah satu prosedur terapi perilaku yang paling banyak digunakan karena efektivitasnya dalam membawa perubahan positif dalam perilaku dan kecocokannya dengan nilai-nilai budaya (Groden & Cautela, 1981). Penguatan positif intermiten lebih tahan lama daripada penguatan positif terus menerus. Penguatan intermiten dapat diberikan pada interval waktu (jadwal interval) atau setelah beberapa respon yang benar (penguatan rasio).

            Kazdin (2001) memberikan contoh singkat dari Kirby dan Shields (1972)  penggunaan penguatan sosial dengan anak kelas tujuh yang melakukan hal buruk di sekolah dan tidak melakukan pekerjaannya. Dalam contoh ini, pujian digunakan sebagai penguat positif dengan jadwal penguatan intermiten di mana rasio respon yang benar untuk memuji menjadi lebih besar dan lebih besar. (Pujian sering pada awalnya, tetapi meruncing di akhir.)

 Penguatan Negatif (Negative Reinforcement)

Seperti penguatan positif, penguatan negatif meningkatkan perilaku. Hal ini tidak boleh disalah artikan sebagi hukuman, yang menurunkan atau melemahkan perilaku. Dalam penguatan negatif konsekuensi yang tidak diinginkan dari perilaku dihapus, yang meningkatkan perilaku akan diulang. Misalnya, jika anda menunggu teman anda ketika hujan, anda membawa payung dan memakainya bersama-sama. Tetapi anda terkena hujan. Dilain waktu anda membawa payung anda dan menggunkannya dengan  intensitas yang sama meningkatkan kemungkinan perilaku positif (Spiegler & Guevremont, 2010).

Pemunahan (Extinction)

Kerika penguatan ditarik atau tidak diberikan, individu berhenti melakukan perilaku. Extinction adalah proses tidak lagi menyajikan penguatan. Contoh kepunahan adalah mengabaikan anak yang menangis, bekerja tanpa dibayar, atau tidak menanggapi seseorang yang sedang berbicara dengan anda. Orang tua dapat menggunakan prinsip dasar extinction ketika berhadapan dengan anaknya. Sebagai contoh, jika seorang ayah membaca majalah dan tidak mengurus anakya sementara anaknya bermain, ada bahaya dari penghilangan cara bermain anak yang sesuai.

 Generalisasi

Ketika perilaku diperkuat, hal ini memungkinkan untuk menggeneralisasi perilaku lainnya. Penguatan meningkatkan kemungkinan cara menanggapi satu jenis stimulus yang akan mentransfer ke rangsangan yang sama. Jadi, ketika seseorang memiliki masalah dengan orang lain dan ia telah menemukan solusi yang efektif maka cara berinteraksi akan digeneralisasi ke situasi yang lain. Contoh, jika seorang anak dipuji karena melakukan tes dengan baik pada mata pelajaran matematika, maka dia mungkin akan melakukan hal yang sam pada mata pelajaran lain. Hal seperti itu penting dilakukan agar dapat menggeneralisasi dari satu pengalaman ke orang lain, pengting juga untuk dapat membedakan antara situasi yang berbeda.

 Diskriminasi

Kemampuan untuk dapat bereaksi secara berbeda, tergantung pada kondisi stimulus yang disajikan, sangat penting bagi individu. Contohnya, driver harus mampu membedakan antara lampu lalu lintas merah dan hijau. Jika mereka buta warna, mereka harus belajar untuk membedakan berdasarkan posisi cahaya. Dalam interaksi sosial, anak-anak belajar bagaimana berperilaku berbeda antara teman dengan pengganggu, dan guru pengganti dengan guru reguler mereka. Individu juga membedakan secara halus, menganggapi perkataan “kamu terlihat bagus hari ini” tergantung siapa yang mengatakan dan nada bicaranya. Singkatnya diskriminasi muncul sebagai tanggapan tertentu yang diperkuat dan lainya diabaikan serta dihilangkan.

 Pembentukan (Shaping)

Ketika terapis membentuk perilaku konseli, melibatkan penguatan, kepunahan, generalisasi, dan diskriminasi. Dalam membentuk, secara bertahap dari perilaku asli ke perilaku yang diinginkan dengan memperkuat pendekatan dari perilaku yang diinginkan. Misalnya, terjadi ketika orang tua memperkuat upaya balita mereka untuk berjalan. Pertama, anak dipuji karena berjalan dengan memegang tangan orang tuanya, kemudian berjalan sambil berpegangan dengan benda disekitarnya seperti meja, kemudian berjalan dari ujung ruangan ke ujung ruangan lainya. Karena target baru tercapai, anak tidak akan lagi dipuji karena target sebelumnya yang telah dicapai.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Modul Ajar: Perawatan Sistem Rem Sepeda Motor

CARA KERJA SCANTOOL SEPEDA MOTOR HONDA

Memahami Cylinder Bore Gauge: Kunci Akurasi Pengukuran Silinder Mesin